Okupansi Kantor CBD Jakarta Tembus 76%, Gedung Premium Paling Dicari

Kamis, 29 Oktober 2026 11:39 WIB
Okupansi Kantor CBD Jakarta Tembus 76%, Gedung Premium Paling Dicari

CBRE Indonesia mencatat okupansi kantor CBD Jakarta mencapai 76,6% oada Kuartal III 2026, level tertingi sejak masa pemulihan pasca-pandemi. Permintaan terbesar data dari gedung kelas Premium dan Grade A. 

 

“Ekonomi global lagi tidak pasti. 

Kok kantor di Jakarta malah makin terisi?”

Pertanyaan ini wajar dan data terbaru memberi gambaran yang menarik.

 

CBRE Indonesia mencatat tingkat keterisian (occupancy rate) perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta mencapai 76,6% pada Kuartal III 2026. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak periode pemulihan pasca-pandemi Covid-19.

 

Data tersebut dipaparkan dalam acara Jakarta Property Market Update Q3 2026 pada 28 Oktober 2026. Lalu, apa yang ada di balik angkanya?

 

Angka Kunci di CBD Jakarta

  • Okupansi: 76,6%

  • Penyerapan bersih (net absorption) Kuartal III 2026: sekitar 22.900 m²

  • Tarif sewa: Rp172.500 per m² per bulan

  • Permintaan tertinggi: gedung kelas Premium dan Grade A

 

Faktor 1: Fondasi Ekonomi yang Terjaga

CBRE menyebut kondisi makroekonomi menjadi salah satu penopang. Indikator yang dipaparkan antara lain:

  • Pertumbuhan ekonomi 5,6% pada Kuartal I dan 5,3% pada Kuartal II 2026

  • Inflasi turun ke 3,28%

  • Suku bunga yang stabil

  • Realisasi investasi naik 7,3% secara tahunan

Kondisi ini mendorong aktivitas bisnis dan kebutuhan ruang untuk ekspansi.

 

Faktor 2: Perusahaan Mengejar Kualitas

Menurut CBRE, perusahaan memanfaatkan harga sewa yang masih kompetitif untuk pindah ke gedung Premium dan Grade A. Penyewa kini mencari gedung dengan fasilitas penunjang lengkap, desain modern yang adaptif, dan spesifikasi yang lebih ramah lingkungan.


Dampaknya terlihat pada tarif sewa: gedung kelas Premium dan Grade A naik sedikit demi sedikit, sedangkan Grade B dan C masih stabil.

 

Faktor 3: Pasokan Baru Sangat Terbatas

Hingga 2028, pasokan perkantoran baru di CBD Jakarta diperkirakan hanya sekitar 123.000 m². CBRE menyebut tren pembangunan kantor baru memang berkurang, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan regional dan global, seiring perubahan pola kerja (workplace strategy) yang tidak lagi mengharuskan semua orang bekerja dari satu kantor.

 

Di sisi lain, pemilik gedung semakin fokus meningkatkan aset yang sudah ada, mulai dari renovasi, perbaikan lingkungan kerja, hingga peningkatan fasilitas agar tetap kompetitif.

 

Bagaimana dengan Kawasan Non-CBD?

Di luar CBD, CBRE mencatat:

  • Penyerapan bersih sekitar 21.600 m² pada Kuartal III 2026

  • Tingkat hunian relatif stabil di 73,2%

  • Permintaan terutama dari instansi pemerintah dan perusahaan sektor barang konsumsi (FMCG), teknologi, kimia, serta energi

 

Yang Tetap Perlu Dicermati

Pemulihan ini nyata, tetapi masih bertahap. Dari data yang sama:

  • Ketersediaan ruang perkantoran di CBD masih sekitar 1,7 juta m²

  • Kenaikan tarif sewa terjadi pelan-pelan dan belum merata di semua kelas gedung

  • Angka okupansi dapat berbeda antarkonsultan karena cakupan gedung dan metodologi yang berbeda

 

Apa Artinya bagi Anda?

Bagi perusahaan penyewa: tarif Premium dan Grade A mulai naik, sementara Grade B dan C relatif stabil. Bandingkan kebutuhan fasilitas dengan anggaran sebelum memutuskan relokasi.

Bagi pemilik gedung dan investor: gedung dengan fasilitas lengkap, desain modern, dan spesifikasi ramah lingkungan lebih diminati. Peningkatan kualitas aset menjadi faktor daya saing.

Bagi agen properti: memahami perbedaan permintaan antarkelas gedung dan antarkawasan, termasuk faktor akses transportasi, membantu memberikan rekomendasi yang lebih tepat kepada klien.

 

Kesimpulan: Yang Dicari Bukan Hanya Ruang, tetapi Kualitas

Okupansi 76,6% menunjukkan pasar perkantoran Jakarta bergerak pulih. Namun cerita di balik angkanya lebih penting: permintaan terkonsentrasi di gedung berkualitas, sementara pasokan baru terbatas.

 

Pasar yang pulih bukan hanya soal ruang yang terisi, melainkan ruang seperti apa yang paling dicari.

 

Karena dalam properti komersial, gedung yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan yang paling tepat menjawab kebutuhan penggunanya.

 

Sumber data: CBRE Indonesia, Jakarta Property Market Update Q3 2026 (28 Oktober 2026), sebagaimana dilaporkan Bisnis.com dan Infobanknews.

Share :